<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Business Model Startup &#8211; StartupStudio.id</title>
	<atom:link href="https://startupstudio.id/category/business-model-startup/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://startupstudio.id</link>
	<description>Fostering high quality early-stage startups</description>
	<lastBuildDate>Mon, 13 Nov 2023 09:37:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7.2</generator>

<image>
	<url>https://startupstudio.id/wp-content/uploads/2020/08/cropped-Logo-Startup-Studio-Black-32x32.png</url>
	<title>Business Model Startup &#8211; StartupStudio.id</title>
	<link>https://startupstudio.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Elemen-elemen Penting dalam Functional Requirement Document</title>
		<link>https://startupstudio.id/elemen-elemen-penting-dalam-functional-requirement-document/</link>
					<comments>https://startupstudio.id/elemen-elemen-penting-dalam-functional-requirement-document/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Startup Studio Indonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Nov 2023 08:22:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Business Model Startup]]></category>
		<category><![CDATA[apa itu frd]]></category>
		<category><![CDATA[contoh frd]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://startupstudio.id/?p=6157</guid>

					<description><![CDATA[Saat terlibat dalam sebuah proyek pengembangan produk atau sistem, ada kalanya semua terlihat kabur. Tim mengalami kebingungan hingga gagal memahami persyaratan fungsional sistem atau produk. Situasi seperti ini sebenarnya bisa diminimalkan dengan Functional Requirement Document (FRD). Jika ingin menggali lebih dalam tentang apa itu FRD dan elemen-elemen penting di dalamnya, di sini Anda akan menemukan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Saat terlibat dalam sebuah proyek pengembangan produk atau sistem, ada kalanya semua terlihat kabur. Tim mengalami kebingungan hingga gagal memahami persyaratan fungsional sistem atau produk. Situasi seperti ini sebenarnya bisa diminimalkan dengan <em>Functional Requirement Document</em> (<strong>FRD</strong>). Jika ingin menggali lebih dalam tentang apa itu FRD dan elemen-elemen penting di dalamnya, di sini Anda akan menemukan jawabannya.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Apa Itu FRD atau </strong><strong><em>Functional Requirement Document</em></strong><strong>?</strong>&nbsp;</h2>



<p><em>Functional Requirement Document</em> atau <strong>FRD adalah </strong>dokumen resmi yang merinci persyaratan fungsional yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan bisnis. Dokumen ini biasanya berfungsi sebagai kontrak antara klien dan pengembang untuk menentukan kemampuan produk yang diterima.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>FRD menggambarkan perilaku yang diinginkan dari sebuah sistem dalam bentuk tugas, layanan, atau fungsi yang harus diwujudkan. Dokumen ini juga menjadi titik temu antara tim bisnis dan tim teknis untuk memastikan kebutuhan bisnis terpenuhi dalam pengembangan produk atau sistem.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Manfaat </strong><strong><em>Functional Requirement Document</em></strong>&nbsp;</h2>



<p>Dalam pengembangan produk atau sistem, <strong>Functional Requirement Document</strong> (FRD) membantu tim proyek dan pemangku kepentingan dengan beberapa macam cara. Berikut beberapa manfaat FRD:&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>1. Sumber persyaratan yang jelas</strong>&nbsp;</h3>



<p>FRD memberi panduan yang jelas kepada semua orang yang terlibat dalam proyek, sehingga semua orang tahu apa yang harus dicapai.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>2. Menghemat uang dan waktu</strong>&nbsp;</h3>



<p>Dengan FRD yang baik, Anda dapat menghindari diskusi yang berulang-ulang dan terlalu memakan waktu. Hal ini dapat membantu mengurangi biaya dan waktu untuk menyelesaikan proyek.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>3. Membuat proyek lebih mudah diprediksi</strong>&nbsp;</h3>



<p>FRD yang rinci membantu tim mengestimasi waktu dan anggaran yang diperlukan dengan lebih akurat.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>4. Identifikasi masalah awal</strong>&nbsp;</h3>



<p>FRD yang baik membantu mengidentifikasi masalah pada tahap awal. Hal ini membuat masalah tersebut lebih mudah dan lebih murah untuk diperbaiki.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Elemen-elemen dalam </strong><strong><em>Functional Requirement Document</em></strong>&nbsp;</h2>



<p>FRD menguraikan elemen-elemen yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan bisnis. Meski formatnya dapat bervariasi tergantung pada produk yang dibuat, terdapat beberapa elemen kunci yang hampir selalu ada dalam setiap FRD.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>1. Informasi Umum</strong>&nbsp;</h3>



<p>Bagian ini berisi latar belakang proyek, tujuan bisnis, asumsi, dan kendala yang dapat memengaruhi pengembangan produk. Selain itu, daftar kontak dari peserta proyek juga termasuk di sini, lengkap dengan peran, nama, dan jabatan. Terakhir, bagian ini juga merinci referensi dokumen yang digunakan sebagai sumber informasi dalam penyusunan FRD.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong><em>2. Functional Requirement</em></strong>&nbsp;</h3>



<p>Bisa dibilang ini adalah bagian inti dari FRD. Persyaratan fungsional menjelaskan fungsionalitas esensial produk yang harus dipenuhi. Ini mencakup <em>data requirement</em>, seperti model data logis dan atribut. Selain itu, <em>process requirement</em> yang mendeskripsikan cara produk akan digunakan dan berinteraksi dengan data juga masuk dalam bagian ini.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong><em>3. Non-Functional Requirement</em></strong>&nbsp;</h3>



<p>Bagian ini menjelaskan persyaratan non-fungsional yang memberikan batasan terhadap sistem, seperti keamanan berbasis peran, jejak audit, ketersediaan sistem, kinerja, kapasitas, ketahanan terhadap kegagalan, keandalan, pemulihan, dan retensi data. Setiap elemen ini menentukan bagaimana sistem akan beroperasi dan berinteraksi dengan pengguna.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong><em>4. Requirements Trace Ability Matrix</em></strong>&nbsp;</h3>



<p>Matriks ini digunakan untuk melacak dan mengelola <em>functional requirement</em> sepanjang proyek. Ini mencantumkan setiap persyaratan dan nomor bagian yang terkait, serta mencerminkan status setiap persyaratan saat produk siap diuji.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>5. Glosarium</strong>&nbsp;</h3>



<p>Glosarium biasanya ditempatkan di akhir FRD dan berisi daftar istilah yang berkaitan dengan produk. Ini membantu memastikan pemahaman tentang istilah-istilah yang digunakan dalam dokumen.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Contoh FRD</strong>&nbsp;</h2>



<p>FRD harus merinci persyaratan dengan jelas, sederhana, dan tidak ambigu. Berikut contoh <em>functional requirement</em> yang ditulis dengan baik:&nbsp;</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Sistem harus mengirimkan email konfirmasi setiap kali ada pesanan </li>



<li>Sistem harus memungkinkan pengunjung untuk mendaftar <em>newsletter </em>dengan memasukkan alamat email mereka </li>



<li>Sistem harus memungkinkan pengguna memverifikasi akun menggunakan nomor telepon mereka </li>
</ol>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Beda </strong><strong><em>Functional Requirement Document</em></strong><strong> dengan </strong><strong><em>Business Requirement Document</em></strong>&nbsp;</h2>



<p>Perbedaan antara BRD (<em>Business Requirement Document</em>) dan FRD (<em>Functional Requirement Document </em>) terletak pada fokusnya. BRD lebih menekankan pada apa yang dibutuhkan oleh bisnis, sedangkan FRD lebih menekankan pada apa yang harus dilakukan oleh sistem.&nbsp;</p>



<p>Jadi, bisa disimpulkan bahwa BRD lebih berfokus pada gambaran besar, sementara FRD lebih berfokus pada detail-detail teknis tentang bagaimana sistem akan beroperasi dan fungsi-fungsi yang harus dilakukan oleh sistem tersebut. Dalam pengembangan sistem, kedua dokumen ini memiliki peran yang berbeda, di mana BRD menentukan tujuan bisnis dan kebutuhan tingkat tinggi, sedangkan FRD menguraikan persyaratan fungsional yang harus dipenuhi oleh sistem untuk mencapai tujuan tersebut. </p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://startupstudio.id/elemen-elemen-penting-dalam-functional-requirement-document/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apa Saja Konten dari Business Requirement Document?</title>
		<link>https://startupstudio.id/apa-saja-konten-dari-business-requirement-document/</link>
					<comments>https://startupstudio.id/apa-saja-konten-dari-business-requirement-document/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Startup Studio Indonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Nov 2023 08:14:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Business Model Startup]]></category>
		<category><![CDATA[apa itu brd]]></category>
		<category><![CDATA[brd vs fsd]]></category>
		<category><![CDATA[contoh brd]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://startupstudio.id/?p=6155</guid>

					<description><![CDATA[Keberhasilan suatu proyek sangat bergantung pada perencanaan dan pemahaman tentang apa yang ingin dicapai. Untuk alasan inilah, business requirement document atau BRD dibutuhkan.&#160; Business Requirement Document memiliki peran penting dalam membantu memastikan keselarasan proyek dengan tujuan bisnis. Namun sebelum membahas lebih jauh, apa sebenarnya business requirement document atau BRD ini?&#160; Pengertian BRD atau Business Requirement [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Keberhasilan suatu proyek sangat bergantung pada perencanaan dan pemahaman tentang apa yang ingin dicapai. Untuk alasan inilah, <em>business requirement document</em> atau <strong>BRD </strong>dibutuhkan.&nbsp;</p>



<p><strong>Business Requirement Document</strong><em> </em>memiliki peran penting dalam membantu memastikan keselarasan proyek dengan tujuan bisnis. Namun sebelum membahas lebih jauh, apa sebenarnya <em>business requirement document </em>atau BRD ini?&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Pengertian BRD atau </strong><strong><em>Business Requirement Document</em></strong>&nbsp;</h2>



<p><em>Business requirement document </em>atau <strong>BRD adalah</strong> sebuah laporan atau dokumen yang merinci tujuan dan persyaratan suatu proyek bisnis baru.&nbsp;</p>



<p>BRD biasanya digunakan untuk menjelaskan kebutuhan bisnis serta hasil yang diharapkan dalam perjalanan proyek. Dokumen ini umumnya disusun di tahap awal proyek dan berperan sebagai referensi utama untuk semua pihak yang terlibat, baik itu <em>business analyst</em>, <em>project manager</em>, ataupun tim pengembang.&nbsp;&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Apa Saja Isi dari </strong><strong><em>Business Requirement Document</em></strong><strong>?</strong>&nbsp;</h2>



<p><em>Business Requirement Document</em> (BRD) menggambarkan persyaratan dan kebutuhan suatu proyek bisnis. Biasanya, dokumen ini berisi hal-hal berikut ini:&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>1. Ringkasan atau Ulasan Proyek</strong>&nbsp;</h3>



<p>Salah satu elemen utama dalam BRD adalah ulasan proyek. Ini mencakup ringkasan singkat tentang persyaratan dan tujuan proyek.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>2. Pernyataan Kebutuhan</strong>&nbsp;</h3>



<p>BRD juga berisi pernyataan kebutuhan yang mencakup aspek logistik dan sumber daya yang diperlukan untuk menjalankan proyek. Pernyataan ini harus disertai dengan perhitungan yang mendukungnya.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>3. Laporan Keuangan</strong>&nbsp;</h3>



<p>Laporan keuangan membantu pemangku kepentingan dan pelaksana proyek memperkirakan dampak proyek pada neraca dan pendapatan perusahaan selama periode tertentu.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>4. Jadwal, Timeline, dan Tenggat Waktu</strong>&nbsp;</h3>



<p>Setiap fase proyek perlu dijelaskan secara rinci dalam BRD, termasuk jadwal, <em>timeline</em>, dan tenggat waktu yang ditetapkan. Penjelasan yang detail mengenai semua tahapan proyek membantu perusahaan dalam mengukur kinerja proyek dan memastikan bahwa semua pemangku kepentingan memahami apa yang dibutuhkan dalam setiap fasenya.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>5. Perkiraan Biaya dan Keuntungan</strong>&nbsp;</h3>



<p>BRD juga harus mencakup perkiraan biaya dan keuntungan yang akan dihasilkan dalam proyek. Ini termasuk daftar rinci biaya, analisis biaya dan keuntungan, serta perhitungan penghematan biaya yang diharapkan dari pelaksanaan proyek.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Pentingnya </strong><strong><em>Business Requirement Document</em></strong>&nbsp;</h2>



<p>BRD dapat memberikan <em>Critical to Quality</em> (CTQ), yakni kualitas kunci yang harus terpenuhi. Dari sini, Anda bisa menghasilkan <em>Voice of Customer</em> (VOC) yang merupakan suara pelanggan yang berharga. Melalui pandangan bisnis, BRD menjelaskan bagaimana CTQ dan VOC dapat memberikan manfaat yang signifikan.&nbsp;</p>



<p>Selain itu, BRD juga memiliki peran penting dalam membedakan antara solusi bisnis dan solusi teknis proyek. Dengan demikian, semua pemangku kepentingan dapat memahami bagaimana solusi yang diajukan akan memenuhi kebutuhan bisnis dan pelanggan.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Contoh BRD atau </strong><strong><em>Business Requirement Document</em></strong>&nbsp;</h2>



<p><em>Business requirement document</em> (BRD) dapat digunakan dalam berbagai jenis proyek. Berikut beberapa contoh penggunaan BRD:&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>1. Proyek Pengembangan </strong><strong><em>Software</em></strong>&nbsp;</h3>



<p>Dalam proyek pengembangan <em>software</em>, BRD berperan sebagai panduan utama. Dokumen ini menjelaskan persyaratan fungsional, arsitektur sistem, dan desain <em>user interface</em>. Di sini, tim pengembangan bisa memanfaatkan BRD sebagai referensi untuk membangun <em>software</em>, memastikan bahwa setiap fitur dan komponen sesuai dengan tujuan bisnis dan memenuhi kebutuhan pengguna.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>2. Proyek </strong><strong><em>Campaign Marketing</em></strong>&nbsp;</h3>



<p>Dalam proyek <em>campaign marketing</em>, BRD membantu dalam mengidentifikasi tujuan kampanye, target audiens, saluran distribusi yang akan digunakan. Dengan BRD, tim dapat memastikan bahwa kampanye <em>marketing </em>berjalan sesuai dengan tujuan pemasaran yang telah ditetapkan.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>3. Proyek Pengembangan Produk</strong>&nbsp;</h3>



<p>Dalam proyek pengembangan produk, BRD berperan sebagai <em>blueprint </em>yang memberikan arah bagi tim pengembang untuk merancang, membangun, dan menguji produk. Dokumen ini memastikan bahwa produk yang dikembangkan memenuhi permintaan pasar dan tujuan bisnis perusahaan.&nbsp;</p>



<p>BRD bukan hanya sekadar dokumen, tetapi merupakan fondasi yang kuat dalam memandu proyek bisnis menuju kesuksesan. Dengan BRD yang disusun secara cermat, Anda dapat memastikan bahwa proyek-proyek yang dikerjakan selaras dengan tujuan bisnis secara keseluruhan.&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://startupstudio.id/apa-saja-konten-dari-business-requirement-document/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Fungsi Value Stream Mapping dalam Manajemen Produksi</title>
		<link>https://startupstudio.id/fungsi-value-stream-mapping-dalam-manajemen-produksi/</link>
					<comments>https://startupstudio.id/fungsi-value-stream-mapping-dalam-manajemen-produksi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Startup Studio Indonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Nov 2023 08:07:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Business Model Startup]]></category>
		<category><![CDATA[apa itu value stream mapping]]></category>
		<category><![CDATA[contoh value stream mapping]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://startupstudio.id/?p=6153</guid>

					<description><![CDATA[Efisiensi produksi tidak mungkin bisa dicapai tanpa mengetahui di mana titik permasalahan dan pemborosan itu terjadi. Untuk mengidentifikasinya, Anda membutuhkan alat yang tepat. Inilah saat di mana value stream mapping (VSM) mengambil peran. Namun, sebelum masuk lebih dalam, apa itu VSM?&#160; Apa Itu Value Stream Mapping?&#160; Value stream mapping adalah sebuah teknik lean manufacturing yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Efisiensi produksi tidak mungkin bisa dicapai tanpa mengetahui di mana titik permasalahan dan pemborosan itu terjadi. Untuk mengidentifikasinya, Anda membutuhkan alat yang tepat. Inilah saat di mana <strong><em>value stream mapping</em></strong> (VSM) mengambil peran. Namun, sebelum masuk lebih dalam, apa itu VSM?&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Apa Itu Value Stream Mapping?</strong>&nbsp;</h2>



<p><strong><em>Value stream mapping</em></strong><strong> adalah</strong> sebuah teknik <em>lean manufacturing </em>yang berperan penting dalam menghasilkan produk atau layanan bagi pelanggan. Tujuan utama teknik ini adalah untuk menciptakan panduan visual mengenai langkah-langkah yang diperlukan dalam proses produksi.&nbsp;</p>



<p>Dengan VSM, perusahaan dapat mengidentifikasi dan mengatasi pemborosan. Mereka juga dapat mengatasi hambatan dalam proses produksi, dan menemukan peluang untuk meningkatkan efisiensi dalam operasional bisnisnya.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Mengapa Value Stream Mapping Itu Penting?</strong>&nbsp;</h2>



<p><em>Value Stream Mapping</em> bukan sebatas alat visual. Dua komponen utama dalam VSM, yakni <em>Current State Map </em>dan <em>Future State Map </em>menjadikannya sebagai landasan penting dalam memperbaiki manajemen proses perusahaan.&nbsp;</p>



<p><em>Value Stream Mapping</em> mampu memberikan pandangan komprehensif terkait proses produksi atau penyediaan layanan. Dengan <em>Current State Map</em>, semua pemangku kepentingan dapat dengan mudah memahami proses dari awal hingga akhir. Hal ini memungkinkan mereka mengidentifikasi apakah proses saat ini sudah berjalan optimal.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Dengan memetakan aliran proses, material, dan informasi, VSM dapat membantu mengidentifikasi di mana pemborosan terjadi. Berbekal <em>Future State Map</em>, perbaikan dapat diterapkan pada area kerja yang sesungguhnya dengan tetap mempertimbangkan temuan dari <em>Current State Map</em>.&nbsp;&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Fungsi Value Stream Mapping dalam Manajemen Produksi</strong>&nbsp;</h2>



<p>Arti penting <em>Value Stream Mapping</em> tidak terlepas dari fungsi yang dihadirkannya. Berikut beberapa fungsi VSM yang menjadi alasan banyak perusahaan menggunakannya.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>1. Mengurangi pemborosan</strong>&nbsp;</h3>



<p>Dengan menganalisis proses produksi melalui VSM, perusahaan dapat dengan cepat mengidentifikasi pemborosan. Dengan menghilangkan pemborosan, operasional produksi menjadi lebih efisien.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>2. Memperkuat komunikasi dan kolaborasi</strong>&nbsp;</h3>



<p>VSM menyajikan aliran kerja dan hubungan setiap langkah dalam proses produksi secara visual. Hal ini membantu semua anggota tim dan <em>stakeholder </em>sehingga memiliki pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana proses bekerja.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Pemahaman yang sama dapat membantu meningkatkan efisiensi komunikasi dan kolaborasi antar departemen dan tim. Hasilnya, tim dapat berkolaborasi dengan lebih baik.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>3. Meningkatkan produktivitas kerja</strong>&nbsp;</h3>



<p>Dengan menganalisis aliran kerja saat ini, perusahaan dapat mengambil tindakan yang tepat untuk meningkatkan efisiensi dalam proses produksi.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Langkah-langkah yang tidak memberikan nilai tambah bisa dihilangkan. Aliran kerja dapat dirampingkan dan efisiensi operasional bisa dicapai. Hasilnya, produktivitas meningkat secara signifikan.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Contoh Value Stream Mapping</strong>&nbsp;</h2>



<p>Contoh penggunaan <em>Value Stream Mapping</em> (VSM) dapat ditemukan di berbagai sektor, termasuk industri layanan, kesehatan, logistik, dan manufaktur. Sebagai contoh, dalam sektor perbankan, VSM dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan mengatasi inefisiensi dalam proses persetujuan pinjaman. Sementara di sektor manufaktur, VSM dapat membantu mengidentifikasi aktivitas tidak efisien, misalnya saja seperti produksi berlebihan dan waktu penyiapan yang lama.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Langkah-Langkah Membuat Value Stream Mapping</strong>&nbsp;</h2>



<p>Bagaimana VSM membantu memeriksa dan meningkatkan proses produksi ditentukan oleh langkah yang Anda ambil. Untuk itu, berikut langkah-langkah yang perlu Anda ketahui dalam membuat <strong><em>value stream mappin</em></strong><strong>g</strong>.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>1. Identifikasi produk Anda</strong>&nbsp;</h3>



<p>Untuk membuat <em>value stream mapping</em>, pertama identifikasi dulu produk yang akan dianalisis. Produk-produk ini kemudian dikelompokkan berdasarkan jenis, ukuran, atau kriteria tertentu untuk mempermudah analisis dan identifikasi produk mana yang mungkin mengalami cacat.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>2. Pahami kondisi saat ini</strong>&nbsp;</h3>



<p>Langkah yang satu ini berguna untuk memperoleh gambaran komprehensif tentang seluruh alur kerja dari proses identifikasi produk yang dilakukan sebelumnya. Untuk itu, kumpulkan dokumen pendukung yang diperlukan, termasuk desain, pembuatan produk, dan perjalanan produk hingga sampai ke tangan konsumen. Selanjutnya, identifikasi pemborosan yang terjadi dalam proses ini.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>3. Rumuskan pemetaan yang paling ideal</strong>&nbsp;</h3>



<p>Setelah memahami kondisi saat ini, selanjutnya rumuskan pemetaan yang ideal berdasarkan keinginan konsumen. Tujuan dari tahap ini adalah untuk membayangkan kondisi masa depan yang lebih baik. Pemetaan ini dapat dilakukan dengan menilai indikator seperti jumlah pekerja, waktu proses, dan lainnya.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>4. Lakukan perbaikan</strong>&nbsp;</h3>



<p>Terakhir, tentukan tindakan perbaikan yang harus diambil. Prioritaskan tindakan perbaikan untuk memastikan penggunaan sumber daya secara efektif. Ingat, VSM bukan hanya tentang menghilangkan pemborosan tetapi juga tentang mengoptimalkan kinerja perusahaan.&nbsp;</p>



<p>Sebagai salah satu kunci dalam manajemen produksi, <em>Value Stream Mapping </em>memberi perusahaan kemampuan untuk mengidentifikasi pemborosan dan memetakan aliran nilai. Dengan pemahaman yang mendalam tentang VSM, Anda akan mendapatkan keunggulan dalam mengoptimalkan proses produksi secara keseluruhan.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://startupstudio.id/fungsi-value-stream-mapping-dalam-manajemen-produksi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Cara Membuat Product Requirement Document?</title>
		<link>https://startupstudio.id/bagaimana-cara-membuat-product-requirement-document/</link>
					<comments>https://startupstudio.id/bagaimana-cara-membuat-product-requirement-document/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Startup Studio Indonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Nov 2023 02:41:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Business Model Startup]]></category>
		<category><![CDATA[apa itu prd]]></category>
		<category><![CDATA[contoh prd]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://startupstudio.id/?p=6147</guid>

					<description><![CDATA[Menciptakan produk yang sukses diawali dari perencanaan yang matang. Setiap rancangan produk akan dikumpulkan dalam dokumen yang disebut PRD (product requirements document). Nah, dalam artikel kali ini kita akan membahas tentang definisi, fungsi, komponen, dan cara membuat product requirement document (PRD) yang efektif.&#160; Apa Itu Product Requirements Document (PRD)?&#160; Product requirements document (PRD) adalah dokumen [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Menciptakan produk yang sukses diawali dari perencanaan yang matang. Setiap rancangan produk akan dikumpulkan dalam dokumen yang disebut PRD (<em>product requirements document)</em>. Nah, dalam artikel kali ini kita akan membahas tentang definisi, fungsi, komponen, dan cara membuat <em>product requirement document </em>(PRD) yang efektif.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Apa Itu </strong><strong><em>Product Requirements Document </em></strong><strong>(PRD)?</strong>&nbsp;</h2>



<p><em>Product requirements document </em>(PRD) adalah dokumen yang berisi persyaratan untuk mengembangkan atau menciptakan suatu produk. Dengan adanya PRD, tim <em>developer </em>memiliki pedoman untuk memahami persyaratan dasar produk yang akan mereka hasilkan.&nbsp;</p>



<p>Biasanya, PRD berisikan informasi terkait spesifikasi, fitur, dan fungsionalitas dari produk yang akan diciptakan atau dikembangkan. Selain itu, masih ada beberapa informasi lain yang ada dalam PRD, semisal tujuan dan latar belakang dari produk yang akan dibuat.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Fungsi </strong><strong><em>Product Requirements Document</em></strong>&nbsp;</h2>



<p>PRD memiliki beberapa fungsi penting yang mencakup:&nbsp;</p>



<ol class="wp-block-list" start="1">
<li><strong>Pedoman</strong>&nbsp;</li>
</ol>



<p>PRD dapat memberi gambaran jelas mengenai apa yang harus dicapai produk, fitur yang harus dimiliki, dan kriteria keberhasilannya.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Gambaran ini tentu memudahkan tim <em>developer </em>agar tetap fokus pada tujuan penciptaan atau pengembangan suatu produk. Meski begitu, rancangan dalam PRD ini tidak bersifat mutlak, melainkan bisa diperbaharui sewaktu-waktu jika memang itu perlu.&nbsp;</p>



<ol class="wp-block-list" start="2">
<li><strong>Media komunikasi antar tim</strong>&nbsp;</li>
</ol>



<p>PRD juga dapat dimanfaatkan sebagai media komunikasi dan kolaborasi antar tim produksi. Ini karena PRD yang berisi perencanaan produksi serta kebutuhan pelanggan bisa menjadi titik referensi bersama bagi seluruh tim produksi yang terlibat.&nbsp;</p>



<p>Dengan begitu, seluruh tim produksi dapat memiliki pemahaman yang sama tentang tujuan dan persyaratan produk, sehingga dapat bekerja sama secara lebih efektif.&nbsp;</p>



<ol class="wp-block-list" start="3">
<li><strong>Memastikan produk telah sesuai dengan kebutuhan pelanggan</strong>&nbsp;</li>
</ol>



<p>PRD bisa juga dipakai untuk mengkomunikasikan kebutuhan pelanggan kepada tim <em>developer</em>. Hasilnya, tim <em>developer </em>bisa menciptakan dan mengembangkan produk yang sesuai dengan apa yang pelanggan kehendaki.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Komponen dalam </strong><strong><em>Product Requirements Document</em></strong>&nbsp;</h2>



<p>Komponen dalam PRD bisa bervariasi tergantung pada kebutuhan produk yang ingin dikembangkan atau diciptakan. Tapi, secara umum, PRD memiliki beberapa komponen yang harus dipenuhi mencakup:&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>1. Ringkasan produk</strong>&nbsp;</h3>



<p>Komponen ini dapat memberikan gambaran umum tentang produk yang akan dikembangkan atau diciptakan. Biasanya, dalam ringkasan produk ini akan berisi informasi mengenai nama produk, deskripsi produk, target audiens, dan keunggulan produk.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>2. Tujuan dan sasaran</strong>&nbsp;</h3>



<p>Komponen berikutnya menjelaskan tentang tujuan dan sasaran dari produk. Tujuan merupakan hasil akhir yang ingin dicapai produk, sedangkan sasaran merupakan langkah yang perlu diambil untuk bisa mencapai tujuan tersebut.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>3. Fitur&nbsp;</strong>&nbsp;</h3>



<p>Komponen ini menjelaskan fitur apa saja yang harus ada pada suatu produk. Fitur yang ada haruslah memiliki tujuan dan fungsi yang dapat memudahkan pengguna akhir (<em>end user)</em>.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>4. Desain</strong>&nbsp;</h3>



<p>Komponen ini menjelaskan desain produk, baik dari segi tampilan maupun nuansa. Kendati begitu, desain ini tidak boleh asal-asalan karena harus disesuaikan dengan target audiens dan tujuan produk.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>5. Jadwal rilis</strong>&nbsp;</h3>



<p>Komponen ini berisi jadwal rilis produk. Informasi ini sangat diperlukan, terlebih bagi para pemangku kepentingan. Dengan begitu, mereka dapat membuat rencana yang sesuai target.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Cara Membuat </strong><strong><em>Product Requirements Document</em></strong>&nbsp;</h2>



<p>Supaya PRD yang dibuat dapat tersusun dengan baik, ada sejumlah cara yang harus Anda lakukan:&nbsp;</p>



<ol class="wp-block-list" start="1">
<li>Tentukan tujuan dari produk&nbsp;</li>
</ol>



<ol class="wp-block-list" start="2">
<li>Mencari tahu gambaran pengguna&nbsp;</li>
</ol>



<ol class="wp-block-list" start="3">
<li>Ubah tujuan menjadi sebuah fitur&nbsp;&nbsp;</li>
</ol>



<ol class="wp-block-list" start="4">
<li>Tentukan <em>timeline</em>&nbsp;</li>
</ol>



<ol class="wp-block-list" start="5">
<li>Buat metrik keberhasilan produk&nbsp;</li>
</ol>



<p>Itulah cara membuat PRD yang bisa Anda ikuti. Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa PRD adalah semacam <em>checklist </em>yang dapat mempermudah kerja tim <em>developer </em>dalam mengembangkan atau menciptakan produk.&nbsp;</p>



<p>Dengan adanya PRD ini, tim <em>developer </em>bisa bekerja sesuai <em>timeline </em>yang telah ditentukan dan produk yang dihasilkan pun akan tetap berkualitas seperti yang sudah direncanakan di awal.&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://startupstudio.id/bagaimana-cara-membuat-product-requirement-document/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pengaruh Data Collection bagi Bisnis yang Wajib Anda Tahu</title>
		<link>https://startupstudio.id/pengaruh-data-collection-bagi-bisnis-yang-wajib-anda-tahu/</link>
					<comments>https://startupstudio.id/pengaruh-data-collection-bagi-bisnis-yang-wajib-anda-tahu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Startup Studio Indonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Oct 2023 05:12:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Business Model Startup]]></category>
		<category><![CDATA[contoh data collection]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://startupstudio.id/?p=6080</guid>

					<description><![CDATA[Persaingan bisnis yang semakin kompetitif membuat peran metode data collection tak terhindarkan. Apalagi, metode ini dapat membantu bisnis dalam membuat keputusan hingga meningkatkan kepuasan pelanggan. Artikel ini akan membahas mengenai pengaruh data collection terhadap bisnis, disertai pula dengan contoh dan jenis-jenisnya. Mari simak!&#160; Pengertian Data Collection&#160; Secara umum, data collection adalah proses pengumpulan data dari [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Persaingan bisnis yang semakin kompetitif membuat peran metode <em>data collection </em>tak terhindarkan. Apalagi, metode<em> </em>ini dapat membantu bisnis dalam membuat keputusan hingga meningkatkan kepuasan pelanggan. Artikel ini akan membahas mengenai pengaruh <em>data collection </em>terhadap bisnis, disertai pula dengan contoh dan jenis-jenisnya. Mari simak!&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Pengertian Data Collection</strong>&nbsp;</h2>



<p>Secara umum, <em>data collection </em>adalah proses pengumpulan data dari berbagai sumber. Data yang dikumpulkan dapat berupa angka (numerik) maupun teks atau gambar.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Dalam bisnis, data yang telah dikumpulkan melalui metode <em>data collection </em>dapat dimanfaatkan untuk melakukan <em>market research.&nbsp;</em>&nbsp;</p>



<p>Dengan begitu, pebisnis maupun pengusaha bisa memperoleh berbagai informasi penting dari bisnisnya, mulai dari karakteristik konsumen, minat dan kebutuhan pasar, serta informasi mengenai bisnis mereka sendiri.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Jenis-jenis Data Collection</strong>&nbsp;</h2>



<p>Berdasarkan sumber datanya, <em>data collection </em>dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu: </p>



<h3 class="wp-block-heading">1. <strong>Data primer</strong> </h3>



<p>Ini merupakan data yang dikumpulkan langsung dari sumber atau responden utamanya. Data primer dikumpulkan melalui berbagai metode seperti wawancara, teknik <em>delphi</em>, teknik <em>projective</em>, dan kuesioner.&nbsp;</p>



<p>Hasil dari data primer akan sangat akurat, meski begitu proses pengumpulan datanya akan sangat memakan waktu dan cukup mahal untuk dilakukan.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading">2. <strong>Data sekunder</strong> </h3>



<p>Jika sebelumnya data dikumpulkan dari sumber utama, maka data sekunder tidak demikian. Jenis data ini justru dikumpulkan atau dihimpun dari berbagai sumber seperti arsip pemerintah, perpustakaan, dan internet.&nbsp;</p>



<p>Pengumpulan data dengan metode ini tentu saja mudah dan tidak memakan waktu yang lama. Kendati demikian, hasilnya tidak akan seakurat data primer.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Pengaruh Data Collection bagi Bisnis</strong>&nbsp;</h2>



<p>Sudah disinggung di awal jika <em>data collection </em>memiliki pengaruh signifikan bagi keberhasilan sebuah bisnis. Di bawah ini adalah berbagai pengaruh <em>data collection </em>bagi bisnis:&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>1. Pengambilan keputusan yang lebih baik</strong>&nbsp;</h3>



<p>Pengaruh pertama dari penerapan <em>data collection </em>dalam bisnis adalah pengambilan keputusan yang lebih baik. Pasalnya, keputusan yang dibuatkan didasarkan pada fakta-fakta yang ada di pasar, sehingga tidak berdasarkan dari dugaan atau asumsi saja. Alhasil, keputusan yang dibuat akan memberikan pengaruh positif terhadap keberlangsungan bisnis.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>2. Paham kebutuhan pelanggan</strong>&nbsp;</h3>



<p>Manfaat dari <em>data collection </em>selanjutnya adalah dapat memahami kebutuhan dan keinginan konsumen. Dengan adanya <em>data collection, </em>pebisnis atau pengusaha jadi bisa mengetahui apa keinginan dan kebutuhan dari konsumennya.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Di samping itu, <em>data collection </em>bisa juga dipakai untuk memahami preferensi serta dorongan apa yang membuat konsumen mau membeli atau menggunakan sebuah produk maupun jasa.&nbsp;&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>3. Peningkatan efisiensi operasional</strong>&nbsp;</h3>



<p><em>Data collection </em>bisa juga dijadikan sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi operasional. Melalui data yang sudah dikumpulkan, pebisnis maupun pengusaha dapat mengidentifikasi area mana saja yang harus diperbaiki serta mengembangkan strategi perbaikan untuk mengefisiensi operasionalnya.&nbsp;</p>



<p>Contoh bagaimana <em>data collection </em>dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan efisiensi operasional bisnis adalah ketika sebuah perusahaan yang bergerak dibidang manufaktur menggunakan data produksi untuk mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki dalam proses produksi. Lewat identifikasi ini, perusahaan tersebut dapat meningkatkan produktivitas dan mengurangi limbah yang dihasilkan.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>4. Identifikasi pasar</strong>&nbsp;</h3>



<p>Manfaat lain dari penerapan metode <em>data collection </em>adalah untuk mengidentifikasi pasar, sehingga memungkinkan pebisnis atau pengusaha membuat produk yang lebih tepat dengan keinginan pasar.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>5. Peningkatan strategi pemasaran</strong>&nbsp;</h3>



<p>Adanya <em>data collection </em>juga memudahkan dalam meningkatkan strategi pemasaran. Sebagai contoh, perusahaan ritel dapat menggunakan data penjualan untuk mengetahui produk atau layanan yang populer di pasar.&nbsp;</p>



<p>Selanjutnya, bisnis bisa menggunakan data tersebut untuk mengembangkan kampanye pemasaran yang fokus pada produk atau layanan yang sedang populer tadi.&nbsp;<br>&nbsp;</p>



<p>Itulah lima pengaruh <em>data collection </em>dalam sebuah bisnis. Dengan memahami pentingnya <em>data collection </em>dan penerapannya secara efektif, pertumbuhan bisnis dapat lebih cepat sekaligus lebih mudah untuk mencapai tujuannya.&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://startupstudio.id/pengaruh-data-collection-bagi-bisnis-yang-wajib-anda-tahu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pengertian dan Indikator Non-Functional Requirements</title>
		<link>https://startupstudio.id/pengertian-dan-indikator-non-functional-requirements/</link>
					<comments>https://startupstudio.id/pengertian-dan-indikator-non-functional-requirements/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Startup Studio Indonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Oct 2023 04:40:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Business Model Startup]]></category>
		<category><![CDATA[contoh non functional requirements]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://startupstudio.id/?p=6072</guid>

					<description><![CDATA[Dalam mengembangkan sebuah sistem, memenuhi kebutuhan fungsional saja tidak cukup. Non functional requirements (NFR) juga punya peran penting dalam memastikan sistem tidak hanya berfungsi, namun juga memenuhi standar kualitas yang diharapkan. Namun, sebelum berbicara lebih jauh, apa itu non functional requirements?&#160; Pengertian dan Contoh Non-Functional Requirements  Jika diartikan secara harfiah, non functional requirement adalah kebutuhan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam mengembangkan sebuah sistem, memenuhi kebutuhan fungsional saja tidak cukup. <strong><em>Non functional requirements</em></strong><strong> </strong>(NFR) juga punya peran penting dalam memastikan sistem tidak hanya berfungsi, namun juga memenuhi standar kualitas yang diharapkan. Namun, sebelum berbicara lebih jauh, apa itu <em>non functional requirements</em>?&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Pengertian dan Contoh Non-Functional Requirements</strong> </h2>



<p>Jika diartikan secara harfiah, <strong><em>non functional requirement</em></strong><strong> adalah </strong>kebutuhan sistem agar sistem tersebut bisa berjalan secara optimal. Meski demikian, perlu diingat bahwa kebutuhan yang dimaksud di sini bukanlah kebutuhan yang mempengaruhi cara kerja sistem secara langsung. <em>Non functional requirements</em> (NFR) lebih berfokus pada kualitas dan kelayakan kondisi dari sistem yang digunakan.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>NFR sendiri dapat dibagi menjadi dua kategori yang terdiri dari atribut kualitas dan kendala. Beberapa <strong>contoh </strong><strong><em>non functional requirements</em></strong><strong> </strong>yang masuk dalam kategori atribut kualitas di antaranya adalah keamanan, kinerja, dan kegunaan. Sementara untuk kategori kendala, contohnya adalah waktu, sumber daya, dan lingkungan.&nbsp;&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Indikator Non Functional Requirements</strong>&nbsp;</h2>



<p>Memenuhi <strong><em>non functional requirements</em></strong> itu penting. Untuk bisa melakukannya, ada beberapa indikator yang perlu diperhatikan.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>1. Kegunaan produk</strong>&nbsp;</h3>



<p>Sejauh mana sistem dapat digunakan dengan nyaman, semua itu perlu diperhatikan secara cermat. Aspek-aspek seperti tampilan yang <em>user-friendly</em>, warna yang tidak mengganggu mata, dan pengoperasian yang mudah, semua itu menjadi faktor penting di sini.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>2. Kemudahan saat menggunakan produk</strong>&nbsp;</h3>



<p>Indikator yang satu ini mengacu pada kemudahan akses sistem, konektivitas dengan perangkat lain, dan dukungan media yang berbeda. Selain itu, kemampuan sistem untuk beradaptasi dengan perubahan dan pembaruan di masa depan juga perlu menjadi perhatian.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>3. Ketahanan produk</strong>&nbsp;</h3>



<p>Daya tahan merupakan indikator yang digunakan untuk menilai ketahanan sistem dalam berbagai kondisi. Dalam hal ini, suatu sistem diharapkan dapat bekerja secara konsisten dan dapat diandalkan, terlepas dari beban kerja yang berat atau minimnya daya yang tersedia.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>4. Dukungan sistem</strong>&nbsp;</h3>



<p>Apakah suatu sistem bisa mendapatkan dukungan dari perangkat, konektivitas, dan aksesoris, inilah yang menjadi fokus dari indikator yang satu ini. Dengan dukungan yang baik, sistem tentunya akan tetap berfungsi dengan baik.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>5. Performa sistem</strong>&nbsp;</h3>



<p>Indikator ini mencakup kecepatan akses, <em>latency</em>, dan respons sistem terhadap perintah. Dalam pengembangan sistem, indikator ini berperan dalam memastikan sistem dapat diandalkan dan bekerja secara efisien.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>6. Keamanan</strong>&nbsp;</h3>



<p>Dari semua indikator dalam NFR, bisa dikatakan keamanan adalah salah satu indikator terpenting. Indikator ini mencakup tindakan untuk melindungi sistem dari ancaman seperti pembobolan data dan akses yang tidak sah.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Bagaimana Menentukan Standar Non Functional Requirements</strong>&nbsp;</h2>



<p>Perlu diingat, standar <em>non functional requirement </em>bisa berbeda-beda tergantung penggunanya. Namun untuk menentukan standarnya, Anda bisa menggunakan cara berikut ini.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>1. Tentukan aspek yang akan diukur</strong>&nbsp;</h3>



<p>Tentukan poin-poin apa saja yang perlu diukur. Untuk yang satu ini, Anda bisa menyesuaikannya dengan kebutuhan pengguna. Selama kebutuhan tersebut terpenuhi, bisa dikatakan sistem telah memenuhi NFR.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>2. Kaitkan kebutuhan dengan kepentingan perusahaan</strong>&nbsp;</h3>



<p>Setelah mengidentifikasi metrik yang diperlukan, pahami bagaimana hal tersebut berdampak pada kepentingan perusahaan. Sebagai contoh, jika perusahaan Anda memiliki lokasi yang sangat aman dan memungkinkan sistem beroperasi dengan andal, hal ini dapat meminimalkan kekhawatiran terkait keandalan sistem.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>3. Pertimbangkan batasan yang ada</strong>&nbsp;</h3>



<p>Kondisi ideal sering kali sulit didapatkan. Oleh karena itu, Anda perlu mempertimbangkan batasan yang ada. Dengan mengidentifikasi dan mempertimbangkan batasan tersebut, Anda dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan keberhasilan implementasi sistem.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>4. Cek standar sistem operasi</strong>&nbsp;</h3>



<p>Saat merancang sebuah aplikasi, pastikan untuk memeriksa panduan sistem operasi tersebut. Perhatikan persyaratan yang harus dipenuhi oleh sistem Anda. Dengan melakukan pengecekan standar sistem operasi, Anda bisa memastikan bahwa sistem tersebut sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan oleh platform yang digunakan.&nbsp;</p>



<p><em>Non functional requirements </em>(NFR) bukan sekadar elemen tambahan dalam pengembangan sistem. NFR juga turut mempengaruhi kualitas dan kinerja sistem. Dengan menjaga keseimbangan antara aspek fungsional dan persyaratan non-fungsional, pengembang dapat menciptakan sistem yang andal, nyaman digunakan, aman, dan efisien.&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://startupstudio.id/pengertian-dan-indikator-non-functional-requirements/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Manfaat Test-driven Development bagi Perusahaan</title>
		<link>https://startupstudio.id/manfaat-test-driven-development-bagi-perusahaan/</link>
					<comments>https://startupstudio.id/manfaat-test-driven-development-bagi-perusahaan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Startup Studio Indonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 Oct 2023 09:26:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Business Model Startup]]></category>
		<category><![CDATA[apa itu test driven development]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://startupstudio.id/?p=6084</guid>

					<description><![CDATA[Bagi perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan perangkat lunak (software development), pasti tidak asing dengan istilah test-driven development atau disingkat TDD. Test&#8211;driven development sendiri adalah salah satu metodologi yang dipakai untuk mengukur keberhasilan sebuah aplikasi yang dibuat.&#160; Namun, sejauh mana TDD memberikan pengaruh positif terhadap perusahaan? Mari simak ulasan selengkapnya berikut ini&#160; Apa Itu Test-driven [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Bagi perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan perangkat lunak <em>(software development)</em>, pasti tidak asing dengan istilah <em>test-driven development </em>atau disingkat TDD<em>. Test</em>&#8211;<em>driven development </em>sendiri adalah salah satu metodologi yang dipakai untuk mengukur keberhasilan sebuah aplikasi yang dibuat.&nbsp;</p>



<p>Namun, sejauh mana TDD memberikan pengaruh positif terhadap perusahaan? Mari simak ulasan selengkapnya berikut ini&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Apa Itu Test-driven Development?</strong>&nbsp;</h2>



<p>Secara sederhana, <em>test-driven development </em>adalah suatu metodologi yang dilakukan dengan cara menyusun unit <em>test </em>terlebih dahulu sebelum melakukan produksi kode (<em>coding</em>).&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Adapun tujuan TDD adalah untuk menghindari berbagai <em>bug </em>atau <em>error</em> pada aplikasi atau <em>website</em> yang mungkin dapat berpengaruh terhadap kepuasan pengguna. Selain itu, TDD ini juga bisa digunakan untuk menghindari kemungkinan penulisan <em>coding</em> yang sama sehingga memengaruhi kinerja dari <em>coding</em> itu sendiri.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Manfaat Test-driven Development Bagi Perusahaan</strong>&nbsp;</h2>



<p>Ada berbagai manfaat dari penerapan TTD bagi perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan perangkat lunak. Adapun manfaatnya sebagai berikut:&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>1. Meminimalkan </strong><strong><em>bug </em></strong><strong>dan </strong><strong><em>error</em></strong>&nbsp;</h3>



<p>Penerapan TDD dapat membantu pengembang dalam menulis <em>coding</em> yang sesuai dengan persyaratan dalam unit <em>test. </em>Hal ini akan mengurangi jumlah <em>bug </em>atau <em>error</em> dalam coding. Perlu diingat, coding yang bebas dari <em>bug </em>dan <em>error</em> akan lebih mudah dipahami, dirawat, dan diuji secara berkala.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>2. Meringankan beban kerja developer</strong>&nbsp;</h3>



<p>Selain meminimalkan <em>bug </em>dan error, penerapan TTD juga dapat mengurangi beban kerja <em>developer</em>. Pasalnya, <em>developer </em>jadi tidak perlu melakukan <em>debugging </em>secara berkali-kali karena kesalahan sudah diminimalkan sejak awal.&nbsp;</p>



<p><em>Debugging </em>sendiri adalah proses untuk mencari dan menghapus <em>bug </em>yang ada dalam sebuah program atau sistem.&nbsp;</p>



<p>Selain itu, adanya TTD juga dapat memudahkan <em>developer </em>lain dalam melanjutkan atau merawat <em>coding</em> yang sudah ada. <em>Coding</em> yang dibuat idealnya mudah dipahami oleh <em>developer </em>lain.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>3. Desain yang lebih baik</strong>&nbsp;</h3>



<p><em>Test-driven development </em>mendorong pengembang untuk merancang kode yang lebih baik. Pada metode konvensional, pengembang akan membuat <em>coding</em> terlebih dahulu baru melakukan testing.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Sebaliknya, pada TTD pengembang justru menyusun unit tes terlebih dahulu. Dengan menyusun unit <em>test</em> terlebih dahulu, <em>coding</em> menjadi lebih mudah diperiksa sehingga membantu developer untuk menghasilkan struktur dan tampilan yang jelas.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Sederhananya, dengan melakukan TTD, <em>developer </em>dapat mencapai struktur modular yang mudah dipahami, dirawat, diperluas, diuji, atau difaktorkan ulang. Dengan begitu, pengembang dapat merancang arsitektur yang lebih bagus ataupun memperbaiki desain yang sekiranya buruk, sebelum masalahnya semakin kompleks.&nbsp;&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>4. Meminimalisir kerusakan dalam coding</strong>&nbsp;</h3>



<p>Ketika melakukan perbaikan kode, ada kemungkinan muncul kerusakan dalam <em>coding</em>. Namun, hal tersebut dapat diminimalkan dengan adanya TTD yang sudah terotomatisasi. Dengan begitu, <em>coding</em> yang bermasalah bisa segera teratasi karena sudah ada tanda peringatan yang diberikan oleh TDD tadi.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Perbedaan TDD dan BDD</strong>&nbsp;</h2>



<p>Pada dasarnya, <em>test-driven development </em>dan <em>behavior-driven development </em>adalah dua pendekatan yang digunakan menguji perangkat lunak dan mencegah <em>bug</em>. Meski begitu, keduanya berbeda dalam segi implementasinya.&nbsp;</p>



<p>TDD fokus pada perancangan dan pengujian secara terisolasi dan iteratif, dengan unit <em>test</em> yang ditulis menggunakan bahasa pemrograman untuk menggambarkan perilaku yang diharapkan dari sebuah fitur.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Sementara itu, BDD berfokus pada perilaku sistem secara menyeluruh. Skrip <em>test</em> dalam BDD biasanya ditulis dalam bahasa yang deskriptif<em>, </em>sehingga lebih mudah dimengerti oleh semua, termasuk tim developer, pimpinan perusahaan, pelanggan, serta klien.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Apa saja kelebihan Test-driven Development?</strong>&nbsp;</h2>



<p>Jika dibandingkan dengan pendekatan pengembangan biasa, TDD memiliki sejumlah kelebihan yang di antaranya:&nbsp;</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Menetapkan target <em>output</em> yang jelas&nbsp;</li>



<li>Membantu memantau kinerja tim developer dan meningkatkan kualitasnya&nbsp;</li>



<li>Meningkatkan efisiensi tim developer dengan fokus pada penulisan kode yang lulus tes dan bukan untuk memenuhi fitur&nbsp;</li>



<li>Memperlihatkan dengan jelas <em>refactor</em> kepada tim developer untuk perbaikan <em>coding</em>&nbsp;</li>
</ul>



<p>&nbsp;<br>Demikianlah kelebihan dari <em>test-driven development </em>yang perlu Anda tahu. Penting untuk diingat, TDD tidak menjamin bahwa aplikasi atau <em>website </em>yang dibuat akan selesai lebih cepat. Justru, TDD menjamin proses pengembangan menjadi lebih objektif dan transparan.&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://startupstudio.id/manfaat-test-driven-development-bagi-perusahaan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Seberapa Pentingkah Menyusun Human Resource Planning?</title>
		<link>https://startupstudio.id/pentingnya-menyusun-human-resource-planning/</link>
					<comments>https://startupstudio.id/pentingnya-menyusun-human-resource-planning/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Startup Studio Indonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 Sep 2023 10:42:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Business Model Startup]]></category>
		<category><![CDATA[human resource planning adalah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://startupstudio.id/?p=5994</guid>

					<description><![CDATA[Manajemen sumber daya manusia telah menjadi aspek penting dalam strategi bisnis modern. Itu sebabnya, penting bagi perusahaan untuk mulai memiliki perencanaan sumber daya manusia yang efektif. Di sinilah peran human resource planning (HRP) dibutuhkan. Pada artikel kali ini, kita akan membahas pentingnya merencanakan HRP untuk keberhasilan perusahaan di dinamis seperti saat ini.&#160; Pengertian Human Resource [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Manajemen sumber daya manusia telah menjadi aspek penting dalam strategi bisnis modern. Itu sebabnya, penting bagi perusahaan untuk mulai memiliki perencanaan sumber daya manusia yang efektif. Di sinilah peran <em>human resource planning </em>(HRP) dibutuhkan. Pada artikel kali ini, kita akan membahas pentingnya merencanakan HRP untuk keberhasilan perusahaan di dinamis seperti saat ini.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Pengertian </strong><strong><em>Human Resource Planning (</em></strong><strong>HRP)</strong>&nbsp;</h2>



<p><em>Human resource planning </em>atau dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai perencanaan sumber daya manusia, adalah proses sistematis untuk mengidentifikasi, mengantisipasi, dan memenuhi kebutuhan SDM yang ada di dalam perusahaan.&nbsp;</p>



<p>&nbsp;<br>Tujuan utama dari <em>human resource planning </em>adalah memastikan perusahaan memiliki jumlah karyawan yang dibutuhkan dan jenis keterampilan yang dibutuhkan. Dengan begitu, cita-cita utama dari bisnis bisa diraih secara lebih efektif dan efisien.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Mengapa </strong><strong><em>Human Resource Planning </em></strong><strong>Penting Bagi Perusahaan?</strong>&nbsp;</h2>



<p><em>Human resource planning </em>penting bagi perusahaan karena berperan besar dalam kinerja dan keberlanjutan sebuah bisnis.&nbsp;</p>



<p>Adapun alasan lain mengapa <em>human resource planning </em>penting bagi perusahaan adalah sebagai berikut:&nbsp;<br>&nbsp;</p>



<p><strong>1. Menghindari kelebihan atau kekurangan tenaga kerja</strong>&nbsp;</p>



<p>HRP dapat membantu perusahaan dalam menghindari kelebihan atau kekurangan tenaga. Sebab, keduanya berpengaruh besar pada kestabilan perusahaan. Kelebihan tenaga kerja dapat meningkat biaya operasional, sedangkan jika kekurangan justru dapat mengganggu produktivitas dan pertumbuhan perusahaan.&nbsp;</p>



<p><strong>2. Mengoptimalkan tenaga kerja</strong>&nbsp;</p>



<p>Adanya <em>human resource planning </em>juga membantu perusahaan untuk mengoptimalkan SDM yang sudah tersedia dengan lebih baik. Dengan begitu, produktivitas dan efisiensi operasional akan berjalan optimal.&nbsp;</p>



<p>Di samping itu, HRP juga memudahkan perusahaan dalam mengidentifikasi kebutuhan SDM sesuai dengan keterampilan yang sedang dibutuhkan.&nbsp;</p>



<p><strong>3. Penyesuaian strategi bisnis&nbsp;</strong>&nbsp;</p>



<p>Analisis HRP memudahkan perusahaan dalam melakukan penyesuaian strategi bisnis yang sudah dibuat. Dengan begitu, pertumbuhan dan perubahan bisnis dapat berjalan dengan lebih baik.&nbsp;</p>



<p><strong>4. Perencanaan anggaran dengan lebih akurat</strong>&nbsp;</p>



<p>Analisis <em>human resource planning</em> memungkinkan perusahaan membuat rencana anggaran dengan lebih akurat, khususnya dalam hal sumber daya manusia. Termasuk di antaranya adalah gaji, tunjangan, dan manfaat yang diterima oleh karyawan.&nbsp;</p>



<p><strong>5. Menekan biaya perekrutan dan pelatihan</strong>&nbsp;</p>



<p>Manfaat penting lain dari <em>human resource planning </em>adalah perusahaan dapat menekan biaya perekrutan dan pelatihan. Ini karena perusahaan mengoptimalkan SDM yang sudah tersedia dan memberikan pelatihan sesuai dengan kebutuhan perusahaan.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Faktor-faktor dalam Menyusun </strong><strong><em>Human Resource Planning</em></strong>&nbsp;</h2>



<p>Dalam menyusun <em>human resource planning, </em>terdapat sejumlah faktor yang perlu Anda pertimbangkan. Adanya faktor-faktor ini akan membantu dalam menyusun rencana sumber daya manusia dengan lebih efektif dan efisien.&nbsp;<br>&nbsp;</p>



<p>Berikut adalah faktor–faktor utamanya:&nbsp;<br>&nbsp;</p>



<p><strong>1. Faktor eksternal</strong>&nbsp;</p>



<p>Faktor eksternal, seperti pengangguran, inflasi, perubahan tingkat bunga, perubahan kondisi sosial-politik-hukum, serta perkembangan teknologi, berperan besar dalam penyusunan HRP.&nbsp;&nbsp;</p>



<p><strong>2. Faktor internal</strong>&nbsp;</p>



<p>Selain eksternal, faktor internal pun termasuk bahan pertimbangan dalam menyusun <em>human resource planning. </em>Faktor internal ini biasanya datang dari perubahan teknologi sehingga mempengaruhi jumlah dan jenis keterampilan yang dibutuhkan oleh perusahaan.&nbsp;</p>



<p>&nbsp;<br><strong>3. Keputusan perusahaan</strong>&nbsp;</p>



<p>Keputusan perusahaan berperan dalam penyusunan HRP. Pasalnya, ada perbedaan dalam keputusan jangka pendek dan panjang, di mana hal itu juga berpengaruh dalam perekrutan sumber daya manusia untuk ke depannya.&nbsp;</p>



<p><strong>4. Ketersediaan SDM saat ini</strong>&nbsp;</p>



<p>Sebelum menyusun HRP, Anda perlu melakukan evaluasi sumber daya manusia yang sudah ada saat ini, terutama <em>skill </em>dan kompetensi. Ini membantu untuk mengidentifikasi apakah ada potensi yang belum dimaksimalkan dalam perusahaan.&nbsp;<br>&nbsp;</p>



<p>Itulah empat faktor yang perlu diperhatikan saat menyusun HRP. Faktor-faktor di atas harus dievaluasi sebaik mungkin dan digabungkan guna mengembangkan rencana HRP dengan efektif serta responsif terhadap kebutuhan bisnis perusahaan.&nbsp;&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://startupstudio.id/pentingnya-menyusun-human-resource-planning/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apa Itu Value Chain dalam Bisnis? Berikut Fungsi dan Klasifikasinya</title>
		<link>https://startupstudio.id/value-chain-pengertian-fungsi-dan-klasifikasinya/</link>
					<comments>https://startupstudio.id/value-chain-pengertian-fungsi-dan-klasifikasinya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Startup Studio Indonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Sep 2023 10:46:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Business Model Startup]]></category>
		<category><![CDATA[value chain]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://startupstudio.id/?p=5997</guid>

					<description><![CDATA[Dunia bisnis yang semakin kompleks dan kompetitif membuat pebisnis harus menambahkan atribut baru ke produknya. Salah satu atribut yang bisa ditambahkan agar bisa mencapai keunggulan holistik adalah dengan memberikan value chain kepada pelanggan.&#160;&#160; Namun, apa itu value chain dan bagaimana perusahaan bisa memanfaatkanya untuk mencapai keunggulan produk yang lebih kompetitif? Untuk mengetahuinya, simak pemaparan selengkapnya.&#160; [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dunia bisnis yang semakin kompleks dan kompetitif membuat pebisnis harus menambahkan atribut baru ke produknya. Salah satu atribut yang bisa ditambahkan agar bisa mencapai keunggulan holistik adalah dengan memberikan <em>value chain </em>kepada pelanggan.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Namun, apa itu <em>value chain </em>dan bagaimana perusahaan bisa memanfaatkanya untuk mencapai keunggulan produk yang lebih kompetitif? Untuk mengetahuinya, simak pemaparan selengkapnya.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Pengertian </strong><strong><em>Value Chain</em></strong>&nbsp;</h2>



<p><em>Value chain </em>(rantai nilai) adalah rangkaian kegiatan bisnis yang dilakukan untuk menambah nilai pada produk atau jasa diproduksi. Penambahan nilai ini biasanya akan diberikan pada setiap langkah atau tahapan produksinya, mulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi, pemasaran, sampai kegiatan distribusinya.&nbsp;</p>



<p>Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Michael Porter dalam bukunya yang berjudul “Competitive Advantage: Creating and Sustaining Superior Performance” pada tahun 1985.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Fungsi </strong><strong><em>Value Chain</em></strong>&nbsp;</h2>



<p>Fungsi dari <em>value chain </em>adalah memberikan pandangan holistik mengenai seluruh proses bisnis yang terlibat dalam menciptakan, mengembangkan, dan mendistribusikan produk atau jasa kepada pelanggan.&nbsp;</p>



<p>Melalui penerapan konsep ini, perusahaan jadi bisa mencapai tujuan bisnis yang diinginkan. Selain itu, ada beberapa fungsi lain dari penerapan konsep <em>value chain </em>ini. Di bawah ini adalah fungsi <em>value chain </em>yang penting untuk diketahui.&nbsp;&nbsp;</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Meningkatkan loyalitas konsumen&nbsp;</li>



<li>Memperoleh pemasukan dalam jangka waktu yang panjang&nbsp;</li>
</ul>



<ul class="wp-block-list">
<li>Memudahkan perusahaan dalam melakukan penelitian dan pengembangan produk&nbsp;</li>



<li>Mempermudah perusahaan dalam merancang produk yang berkualitas&nbsp;</li>



<li>Mengefisiensi biaya dan jumlah produksi&nbsp;</li>



<li>Membuka peluang pasar dan meningkatkan proses penjualan produk&nbsp;</li>



<li>Mengidentifikasi aktivitas dalam sistem produksi sehingga dapat mengetahui kelemahan dan kekurangan yang terdapat di dalamnya&nbsp;</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Klasifikasi </strong><strong><em>Value Chain</em></strong>&nbsp;</h2>



<p><em>Value chain </em>dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori utama, yaitu <em>primary activities) </em>dan <em>support activities. </em>Berikut ini adalah penjelasan lengkap mengenai dua kategori <em>value chain:</em>&nbsp;</p>



<p><strong>1. </strong><strong><em>Primary activities </em></strong><strong>(aktivitas primer)</strong>&nbsp;</p>



<p>Ini adalah kategori <em>value chain </em>yang terlibat langsung dalam proses produksi dan penjualan produk. Aktivitas ini yang membuat produk atau jasa yang diproduksi memiliki keistimewaan di mata konsumen.&nbsp;</p>



<p>Terdapat lima jenis <em>primary activities </em>dalam <em>value chain, </em>yaitu:&nbsp;<br>&nbsp;</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong><em>Inbound logistic. </em></strong>Mencakup seluruh aktivitas yang berkaitan dengan pengadaan, penyimpanan, dan pengolahan bahan baku atau komponen lain yang diperlukan dalam proses produksi.&nbsp;</li>



<li><strong><em>Operations. </em></strong>Tahap di mana bahan baku atau komponen diproses menjadi produk jadi melalui tahapan produksi&nbsp;</li>



<li><strong><em>Outbound logistic. </em></strong>Melibatkan aktivitas terkait penyimpanan dan distribusi produk akhir ke pelanggan.&nbsp;</li>
</ul>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Marketing atau sales. </strong>Upaya untuk memasarkan produk atau jasa kepada pelanggan dan menjualnya.&nbsp;</li>



<li><strong><em>Service. </em></strong>Melibatkan pemberian layanan purna jual kepada pelanggan setelah membeli produk atau jasa.&nbsp;</li>
</ul>



<p><strong>2. </strong><strong><em>Support activities </em></strong><strong>(aktivitas pendukung)</strong>&nbsp;</p>



<p><em>Support activities </em>adalah aktivitas yang tidak langsung terlibat langsung dalam proses produksi, tapi mendukung <em>primary activities </em>agar bisa berjalan secara efisien. Terdapat empat jenis <em>support activities, </em>yaitu:&nbsp;<br>&nbsp;</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong><em>Procurement </em></strong><strong>(pengadaan). </strong>Terlibat dalam akuisisi sumber daya, bahan baku, atau komponen yang diperlukan untuk proses produksi.&nbsp;</li>



<li><strong><em>Technology development. </em></strong>Ini termasuk penelitian, pengembangan, dan penerapan teknologi dalam proses bisnis untuk meningkatkan efisiensi waktu dan inovasi produk.&nbsp;</li>



<li><strong><em>Human resource management. </em></strong>Terlibat dalam pengelolaan sumber daya manusia, termasuk perekrutan, pelatihan, dan pengembangan karyawan.&nbsp;</li>



<li><strong><em>Infrastructure. </em></strong>Mencakup fasilitas dan infrastruktur yang mendukung seluruh <em>value chain, </em>seperti sistem informasi, manajemen umum, dan fasilitas fisik.&nbsp;</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Strategi </strong><strong><em>Value Chain</em></strong>&nbsp;</h2>



<p>Strategi <em>value chain </em>digunakan perusahaan untuk mengoptimalkan setiap elemen yang ada di rantai nilai di produk atau jasa mereka dengan maksud untuk mencapai keunggulan kompetitif, efisiensi operasional, dan mengurangi biaya.&nbsp;<br>&nbsp;</p>



<p>Berikut adalah strategi <em>value chain </em>yang bisa diterapkan:&nbsp;</p>



<p><strong>1. Strategi </strong><strong><em>diferensiasi</em></strong>&nbsp;</p>



<p>Fokus pada penciptaan produk atau jasa yang lebih unik dan memiliki nilai tambah lebih tinggi dibandingkan dengan kompetitor.&nbsp;</p>



<p><strong>2. Strategi keunggulan biaya</strong>&nbsp;</p>



<p>Selain menciptakan produk yang unik, strategi selanjutnya adalah dengan menawarkan harga yang relatif terjangkau sehingga bisa memenangkan kompetisi di pasar.&nbsp;</p>



<p><strong>3. Strategi keunggulan bersaing</strong>&nbsp;</p>



<p>Ini adalah pendekatan yang mengukur profitabilitas (keuntungan) perusahaan dan kompetitor sebagai tolak ukur keberhasilan dalam menguasai industri pasar.&nbsp;<br>&nbsp;</p>



<p>Setiap perusahaan harus merancang strategi <em>value chain </em>yang sesuai dengan industri, produk, dan tujuan dari bisnis mereka. Oleh karena itu, penting untuk terus memantau dan mengevaluasi implementasi ini agar tetap relevan dan efektif sesuai dengan kondisi pasar.&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://startupstudio.id/value-chain-pengertian-fungsi-dan-klasifikasinya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>8 Jenis Exit Strategy bagi Perusahaan</title>
		<link>https://startupstudio.id/jenis-exit-strategy-bagi-perusahaan/</link>
					<comments>https://startupstudio.id/jenis-exit-strategy-bagi-perusahaan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Startup Studio Indonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Sep 2023 10:36:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Business Model Startup]]></category>
		<category><![CDATA[exit strategy adalah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://startupstudio.id/?p=5991</guid>

					<description><![CDATA[Ada banyak strategi yang bisa Anda terapkan untuk membangun sebuah bisnis yang sukses. Namun, pernahkah terlintas dipikiran Anda untuk membuat plan sebaliknya, yaitu dengan menerapkan exit strategy alias meninggalkannya. Meski tidak terlalu populer, sejumlah pebisnis besar justru banyak yang menerapkan strategi ini dalam bisnisnya.&#160; Untuk memperdalam pemahaman mengenai exit strategy akan dibahas lebih jauh melalui [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ada banyak strategi yang bisa Anda terapkan untuk membangun sebuah bisnis yang sukses. Namun, pernahkah terlintas dipikiran Anda untuk membuat <em>plan </em>sebaliknya, yaitu dengan menerapkan <em>exit strategy</em> alias meninggalkannya<em>. </em>Meski tidak terlalu populer, sejumlah pebisnis besar justru banyak yang menerapkan strategi ini dalam bisnisnya.&nbsp;</p>



<p>Untuk memperdalam pemahaman mengenai <em>exit strategy </em>akan dibahas lebih jauh melalui artikel berikut, mulai dari pengertian, jenis-jenis, contoh, serta pertimbangan sebelum melakukannya. Mari simak!&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Pengertian </strong><strong><em>Exit Strategy</em></strong>&nbsp;</h2>



<p>Dalam konteks bisnis, <em>exit strategy </em>adalah rencana yang dibuat oleh pemilik usaha untuk mengalihkan kepemilikannya kepada orang lain.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Tapi, jangan langsung berasumsi buruk dengan strategi tersebut. Sebab, pengalihan kepemilikan bisnis ini bisa bertujuan untuk merencanakan bidang usaha baru atau menyelamatkan bisnis dari kerugian yang sedang atau akan dialami.&nbsp;</p>



<p>&nbsp;<br>Di sisi lain, <em>exit strategy </em>yang direncanakan tidak sepenuhnya untuk kedua tujuan tadi. Bahkan, saat bisnis sedang berjalan lancar pun, <em>exit strategy </em>dapat diterapkan guna menambah keuntungan (profit).&nbsp;&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Jenis-jenis </strong><strong><em>Exit Strategy </em></strong><strong>Dalam Bisnis</strong>&nbsp;</h2>



<p>Berikut adalah beberapa contoh <em>exit strategy </em>yang umum digunakan dalam bisnis:&nbsp;</p>



<p><strong>1. Menjual ke investor</strong>&nbsp;</p>



<p>Ini adalah jenis <em>exit strategy </em>yang dilakukan dengan cara menjual saham kepada angel investor. Kelebihan dari jenis ini adalah perusahaan masih bisa berjalan sebagaimana mestinya tanpa terganggu oleh perubahan status kepemilikan.&nbsp;</p>



<p>Sayangnya, strategi<em> </em>ini juga memiliki kekurangan, salah satunya adanya kemungkinan untuk mencari investor yang mau membeli bisnis.&nbsp;</p>



<p><strong>2. Mewariskan kepada keluarga</strong>&nbsp;</p>



<p>Selain menjualnya ke investor, pebisnis juga bisa melakukan <em>exit strategy </em>dengan mewariskan bisnisnya ke pihak keluarga. Namun, jika memilih jenis <em>exit strategy </em>ini, pastikan anggota keluarga yang dipilih memiliki kompetensi dan kualitas untuk melanjutkan bisnis, ya.&nbsp;</p>



<p><strong>3. </strong><strong><em>Merger &amp; acquisition </em></strong><strong>(M&amp;A)</strong>&nbsp;</p>



<p>M&amp;A adalah jenis <em>exit strategy </em>di mana pebisnis atau pelaku usaha menjual bisnisnya ke perusahaan atau investor lain. Melalui jenis <em>exit strategy </em>seperti ini, pebisnis jadi bisa menaikkan nilai sahamnya apabila mendapat banyak penawaran.&nbsp;<br>&nbsp;</p>



<p>Di lain sisi, <em>exit strategy </em>seperti ini memiliki kekurangan, yaitu membutuhkan waktu lama dan memiliki peluang gagal yang tinggi.&nbsp;</p>



<p><strong>4. IPO (</strong><strong><em>Initial Public Offering)</em></strong>&nbsp;</p>



<p>Jenis <em>exit strategy </em>berikutnya adalah IPO. IPO sendiri merupakan proses di mana pebisnis menawarkan atau menjual samanya kepada publik. Strategi ini biasanya diambil oleh pebisnis untuk mengumpulkan modal tambahan.&nbsp;</p>



<p><strong>5. Likuidasi</strong>&nbsp;</p>



<p>Likuidasi adalah jenis <em>exit strategy </em>yang dilakukan dengan menutup seluruh usaha dan menjual aset yang dimilikinya. Terkadang, cara ini menjadi satu-satunya bagi solusi bagi pebisnis yang secara individu dan tidak punya pilihan untuk dijual.&nbsp;</p>



<p><strong>6. </strong><strong><em>Acquires</em></strong>&nbsp;</p>



<p>Tidak selamanya akuisisi dilakukan untuk mengambil alih bisnis perusahaan, karena bisa juga untuk mengakuisisi SDM yang ada di dalamnya. Akuisisi seperti ini masuk ke dalam jenis <em>exit strategy </em>yang disebut sebagai <em>acquires.</em>&nbsp;</p>



<p><strong>7. </strong><strong><em>Management &amp; employee buyouts</em></strong><strong> (MBO)</strong>&nbsp;</p>



<p>Ini adalah jenis <em>exit strategy </em>yang memungkinkan manajemen perusahaan tetap diisi oleh karyawan lama yang ditransmisikan ke peran yang lebih senior untuk mengisi bagian kepemimpinan.&nbsp;<br>&nbsp;</p>



<p><strong>8. Mengajukan kebangkrutan</strong>&nbsp;</p>



<p><em>Exit strategy </em>terakhir adalah mengajukan kebangkrutan. Jenis jalan keluar ini sebaiknya dihindari karena bisa mengakibatkan aset yang dimiliki disita dan mempengaruhi kredit ketika mengajukan pinjaman.&nbsp;</p>



<p>Masing-masing jenis strategi jalan keluar di atas memiliki kelebihan dan kekurangannya. Maka dari itu, Anda tinggal memilih jenis strategi di atas sesuai dengan kebutuhan dan situasi bisnis yang sedang dijalani.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Pertimbangan Sebelum Menerapkan </strong><strong><em>Exit Strategy</em></strong>&nbsp;</h2>



<p><em>Penerapan exit strategy </em>dalam bisnis merupakan keputusan penting yang membutuhkan pertimbangan matang. Berikut adalah beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan menerapkan <em>exit strategy.</em>&nbsp;<br>&nbsp;</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Tujuan bisnis&nbsp;</li>



<li>Nilai bisnis&nbsp;</li>
</ul>



<ul class="wp-block-list">
<li>Pasar dan industri&nbsp;</li>



<li>Waktu&nbsp;</li>



<li>Keuangan pribadi&nbsp;</li>



<li>Persaingan&nbsp;</li>
</ul>



<p>Penting juga untuk merencanakan <em>exit strategy </em>dengan hati-hati dan dukungan profesional untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil merupakan hal bijak dan sesuai dengan tujuan bisnis Anda.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Jadi, apakah Anda tertarik untuk menerapkan strategi ini untuk bisnis Anda?&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://startupstudio.id/jenis-exit-strategy-bagi-perusahaan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
