Ingin Tahu Cara Hitung Break Even Point? Begini Caranya!

Banyak yang sering salah kaprah soal break even point (BEP). Banyak orang yang menyamakannya dengan balik modal. Padahal, konsep BEP jelas berbeda dengan konsep balik modal atau ROI (Return of Investment). Lantas, apa sebenarnya BEP? 

Break even point atau yang sering disingkat BEP merupakan titik di mana pendapatan yang diterima perusahaan sama dengan total biaya yang dikeluarkan. Pada titik ini, perusahaan mencapai titik impasnya. Dengan kata lain, perusahaan tidak rugi ataupun untung. 

Dasar-Dasar Break Even Point 

Konsep BEP sebenarnya sederhana. Namun agar lebih mudah memahaminya, berikut dasar-dasar break even point yang perlu Anda ketahui.  

1. Biaya dan Pendapatan 

Biaya adalah pengeluaran yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam kegiatan operasionalnya, sedangkan pendapatan adalah jumlah uang yang diterima dari penjualan produk atau jasa. Bisnis dikatakan BEP saat besarnya pendapatan sama dengan biaya. 

2. Jenis Biaya 

Dalam menghitung BEP, secara garis besar ada dua jenis biaya yang perlu dipahami, yaitu fixed cost dan variable cost.  

Fixed cost sifatnya tetap meskipun volume penjualan berfluktuasi. Di sisi lain, variable cost adalah biaya yang berubah seiring dengan perubahan volume penjualan. 

3. Kaitan antara Biaya, Pendapatan, dan Volume Penjualan 

Semakin tinggi biaya yang dikeluarkan atau semakin rendah pendapatan yang diterima, BEP akan semakin tinggi. Sebaliknya, jika biaya semakin rendah atau pendapatan semakin tinggi, BEP akan semakin rendah. 

4. Menghitung Break Even Point 

Untuk menghitung BEP, Anda memerlukan informasi mengenai fixed cost, variable cost per unit, dan harga jual per unit.  

5. Menerjemahkan Hasil Break Even Point 

Hasil BEP dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja bisnis saat ini. Jika volume penjualan di bawah BEP, berarti perusahaan rugi. Sebaliknya, jika volume penjualan di atas BEP, ini artinya perusahaan untung. 

6. BEP untuk Mengambil Keputusan 

Anda dapat menghitung risiko dan mengoptimalkan keuntungan dengan BEP. Berbekal informasi tersebut, Anda bisa menentukan harga jual yang tepat, merencanakan volume penjualan yang optimal, atau mengevaluasi efisiensi operasional. 

Elemen-Elemen dalam Break Even Point 

Dalam menghitung BEP, sedikitnya ada 5 elemen yang perlu dipertimbangkan. Berikut elemen-elemen tersebut. 

1. Fixed Cost 

Fixed cost merupakan biaya tetap yang tidak berubah dengan fluktuasi volume penjualan. Beberapa contoh fixed cost di antaranya ada biaya sewa kantor dan gaji tetap karyawan. Jadi, terlepas dari volume penjualan yang naik atau turun, nilai fixed cost cenderung tetap. 

2. Variable Cost 

Variable cost merupakan biaya yang berubah seiring dengan perubahan volume penjualan. Biaya yang masuk kategori ini di antaranya biaya tenaga kerja langsung atau biaya pengiriman. Biasanya, semakin tinggi volume penjualan, semakin tinggi juga variable cost-nya. 

3. Mixed Cost 

Mixed cost adalah kombinasi antara fixed cost dan variable cost. Contohnya adalah biaya bensin kendaraan, tagihan listrik, dan tagihan air. Meski Anda tidak menggunakan banyak air atau listrik, tetap ada tagihan yang harus dibayar. 

4. Harga Pokok Penjualan 

Harga pokok penjualan merupakan biaya yang terkait langsung dengan produksi atau penyediaan produk atau jasa. Nominal HPP ini masih murni atau sama dengan BEP. 

5. Margin Keuntungan 

Margin keuntungan adalah selisih antara harga jual per unit dengan biaya per unit. Jadi, semakin besar selisihnya, semakin besar juga keuntungan yang diperoleh dari penjualan setiap unitnya. 

Cara Menghitung Break Even Point 

Ada 3 metode yang biasa digunakan untuk menghitung BEP. Berikut rumus perhitungannya. 

1. Penghitungan BEP per unit 

BEP Per Unit = Fixed Cost / (Harga Per Unit – Variable Cost Per Unit) 

2. Penghitungan BEP per penjualan 

BEP Per Penjualan = Fixed Cost / [1 – (Total Variable Cost/Harga Total)] 

3. Penghitungan BEP per biaya 

BEP Per Biaya = (Total Fixed Cost + Total Variable Cost) / Total Unit 

Dengan menghitung BEP, Anda bisa mengetahui total biaya produksi hingga estimasi waktu balik modal. Tentu saja, informasi ini akan sangat membantu perusahaan mencapai stabilitas dan keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang. 

Share

Related Article

brd

Apa Saja Konten dari Business Requirement Document?

Keberhasilan suatu proyek sangat bergantung pada perencanaan dan pemahaman tentang apa yang ingin dicapai. Untuk alasan inilah, business requirement document atau BRD dibutuhkan.  Business Requirement

value stream mapping

Fungsi Value Stream Mapping dalam Manajemen Produksi

Efisiensi produksi tidak mungkin bisa dicapai tanpa mengetahui di mana titik permasalahan dan pemborosan itu terjadi. Untuk mengidentifikasinya, Anda membutuhkan alat yang tepat. Inilah saat

Program intensif yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia untuk memberdayakan early-stage startup, berfokus pada akselerasi produk dan tim, validasi strategi growth marketing, assisting technology development, dan business skill.

© Startup Studio Indonesia 2021

Sebuah program dari: