Mengukur Perkembangan Startup dengan Innovation Accounting

Mengukur Perkembangan Startup dengan Innovation Accounting

Innovation accounting merupakan salah satu elemen kunci dalam metode lean startup yang dapat memberikan metrics yang sangat bermanfaat untuk mengukur perkembangan sebuah startup. Melalui innovation accounting, pemilik bisnis dan pengembang bisa mendapatkan insight tentang user engagement, product market fit dan skalabilitas. Namun apa innovation accounting sebenarnya?

Apa Itu Innovation Accounting?

Innovation accounting adalah sebuah sistem yang dibentuk untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menyajikan data tentang terobosan perusahaan dan usaha inovasi disruptive. Innovation accounting mungkin diawali dari sebuah asumsi. Namun seiring dengan perjalanan, asumsi tersebut diubah menjadi model keuangan yang dapat dihitung.

Inovasi akuntansi dapat digunakan untuk mengukur dan mengelola kemajuan usaha startup dalam menemukan ide potensial ke model bisnis yang divalidasi. Apakah ide yang dieksekusi benar-benar layak untuk dikembangkan lebih jauh lagi? Inovasi akuntansi bisa menjadi salah satu tolak ukur menilai hal tersebut. Prinsip inovasi akuntansi tidak terbatas pada akuntansi itu sendiri.

Dalam perusahaan startup, makna inovasi akuntansi diperluas untuk mengukur dan mengelola ekosistem inovasi secara menyeluruh. Sedikitnya ada 3 aktivitas inovasi yang menjadi fokus innovation accounting. Ketiga fokus tersebut antara lain, membuat keputusan investasi pada jenis usaha yang berbeda, melacak dan mengukur keberhasilan proyek inovasi tertentu serta menilai dampak inovasi terhadap bisnis.

Tingkatan Innovation Accounting

Dalam innovation accounting, terdapat 3 tingkatan yang harus dilalui oleh setiap startup. Setiap tingkatan memiliki fokusnya masing-masing. Untuk lebih jelasnya, berikut 3 tingkatan innovation accounting.

  • Level 1

Tingkat pertama atau level 1 memiliki fokus pada pengguna. Kuncinya di sini ada pada penggunaan metrik yang mudah dilacak dan berkaitan erat dengan aktivitas pengembangan produk.

Hal ini dilakukan untuk proses pengembangan bisa selaras dengan feedback dan kebutuhan pengguna. Di level 1, tim bisa melihat apa saja yang berhasil dan tidak. Misalnya jika tidak ada orang yang mau mencoba, pembelian, terlebih pembelian berulang jelas tidak akan mungkin ada.

Beberapa contoh metrik yang digunakan di level 1 ini diantaranya adalah kecepatan eksperimen, jumlah konversi pengguna, jumlah wawancara pengguna, jumlah observasi pengguna dan jumlah prototipe yang dibangun.

  • Level 2

Dalam startup, tidak mungkin membangun sesuatu yang baru tanpa didasari oleh asumsi. Akan tetapi, asumsi tersebut harus diukur dan divalidasi. Inilah yang terjadi di inovasi akuntansi level 2. Setidaknya ada dua jenis asumsi yang perlu diuji. Kedua asumsi tersebut adalah value assumption dan growth assumption.

Pengujian kedua asumsi tersebut dapat dilakukan melalui pembuatan prototipe dan pembelajaran yang akan memandu arah pengembangan produk. Di sini, startup bisa menggunakan metrik-metrik seperti tingkat pembelian berulang, tingkat retensi, kesediaan untuk membayar harga premium dan tarif referral.

  • Level 3

Di level 3, inovasi akuntansi masuk ke “pengecekan kenyataan” melalui Net Present Value (NPV). Jika sebelumnya startup hanya bergerak atas dasar asumsi, NPV menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi.

Berbeda dengan NPV konvensional yang memasukkan asumsi seperti cost produk, market share dan sejenisnya, NPV inovasi akuntansi menggunakan “driver” jangka panjang.

Metrik yang digunakan di sini diantaranya adalah jumlah pengunjung website, persentase pengunjung yang menjadi pengguna hingga harga rata-rata yang dibayar oleh setiap pengguna.

Untuk mengadopsi innovation accounting, sedikitnya ada 3 tahapan proses yang perlu dilalui. Ketiga tahapan tersebut adalah memilih metrik, monitoring data dan mengambil tindakan berdasarkan data yang diperoleh. Melalui ketiga tahap proses tersebut, startup tidak lagi bergerak atas dasar asumsi.

Startup adalah perusahaan rintisan yang banyak bergelut dengan hal-hal yang belum terjadi melalui inovasi yang umumnya mendisrupsi. Namun inovasi tidak boleh hanya didasarkan pada asumsi. Eksekusi gagasan harus terus dimonitor dan dievaluasi. Dengan demikian, lompatan yang tadinya hanya berdasarkan asumsi dapat diubah menjadi bisnis yang menguntungkan secara finansial.

Bagaimana dengan startup Anda? Sejauh mana Anda sudah mengimplementasikan innovation accounting dalam mengembangkan startup Anda?

Buat Anda para founder startup potensial yang sedang membangun produk dan startup, Anda bisa mendapatkan kesempatan dalam mengembangkan produk dan skala bisnis melalui brainstorming dan mentoring secara langsung dari para founder dan pelaku startup terkemuka di Indonesia, serta para ahli di bidangnya melalui Startup Studio Indonesia (SSI) yang merupakan program pemberdayaan startup early-stage dari Kemenkominfo.

Pendaftaran Batch 3 SSI sudah dibuka mulai 15 Juli  – 15 Agustus 2021. Temukan informasi lengkap tentang SSI, termasuk tentang pendaftaran dan berbagai kriterianya, dengan mengunjungi website Startup Studio Indonesia.

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Related Article

Strategi pengembangan produk

Hal-hal Penting dalam Strategi Pengembangan Produk

Seiring dengan perubahan yang terjadi, sebuah produk harus bisa tetap mempertahankan nilainya. Untuk melakukannya, dibutuhkan strategi pengembangan produk yang tepat agar produk tersebut bisa terus

metode agile

Metode Agile vs Waterfall: Mana yang Harus Dipilih?

Metode manajemen proyek yang dipilih memiliki andil besar dalam perjalanan sebuah startup. Untuk itu, penting bagi para founder untuk memahami metode yang sebaiknya dipilih. Sedikitnya

Program intensif yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia untuk memberdayakan early-stage startup, berfokus pada akselerasi produk dan tim, validasi strategi growth marketing, assisting technology development, dan business skill.

© Startup Studio Indonesia 2021

Sebuah program dari: