Memahami Pentingnya Cultural Handbook Bagi Startup

Setiap startup selalu dimulai dari beberapa orang saja. Namun, seiring dengan perkembangan, baik secara perusahaan maupun bisnis, startup tentu membutuhkan bantuan orang lain. Dalam hal ini, tentu seorang founder akan merekrut karyawan.

Penambahan orang-orang baru, seringkali akan membawa perubahan pada banyak hal, dan salah satunya adalah budaya perusahaan. Sebagai founder, saat membangung sebuah startup, tentu budaya kerja adalah hal penting yang harus dibentuk. Anda pun tentu ingin terus mempertahankan budaya tersebut karena itu adalah bagian dari identitas perusahaan Anda.

Namun, kembali ke soal penambahan orang-orang baru di atas. Bila Anda tidak memiliki dokumen jelas tentang budaya kerja di startup Anda, maka sangat dimungkinkan, hal tersebut akan pudar dan berubah seiring dengan semakin banyaknya orang-orang baru yang masuk ke startup Anda.

Perusahaan startup cukup dikenal dengan budayanya yang ternyata memiliki peran penting bagi startup itu sendiri termasuk dalam perkembangannya. Terkadang inilah yang membuat para pencari kerja lebih memilih melamar ke perusahaan startup. Perkembangan perusahaan startup sangatlah menyenangkan, bahkan dimulai dari perekrutan karyawan pertama.

Untuk itu, agar hal tersebut tidak terjadi, sangat penting untuk Anda membuat cultural handbook agar budaya kerja yang sudah Anda bentuk bisa tetap dipertahankan. Budaya kerja dalam sebuah perusahaan jelas memiliki dampak terhadap operasional bisnis. Mengikuti cultural handbook adalah hal mudah jika Anda hanya memiliki karyawan yang tidak banyak dalam ruangan kantor yang kecil. Namun di saat orang-orang mulai direkrut ke dalam perusahaan, cultural handbook menjadi sulit dipraktikkan dalam sehari-hari.

Cara terbaik dalam menggunakan cultural handbook adalah dengan mendokumentasikannya dalam sebuah file untuk setiap karyawan di perusahaan. Setiap perusahaan perlu melakukan hal ini untuk cultural handbook, karena hal ini bukan hanya sekadar file onboarding atau kebijakan perusahaan, melainkan ini adalah apa yang diinginkan perusahaan kepada karyawannya.

Jika Anda ingin membuat sebuah cultural handbook, hindari memakai bahasa yang sulit dimengerti, melainkan selalu gunakan bahasa yang jelas dan eksplisit. Anda tidak boleh menggunakan bahasa yang bisa menimbulkan multi-interpretasi ataupun yang membingungkan. Cultural handbook harus jelas apa yang Anda inginkan dari para karyawan.

Sebagai contoh, ketimbang menyebut “kerja dari rumah itu tidak apa-apa”, lebih baik menulis “kerja dari rumah adalah hal bagus, tapi kalau ada rapat, Anda harus berada di kantor. Sulit mengerjakan tugas dari rumah. Ketika Anda kerja dari rumah, mohon pastikan untuk menjadwal ulang rapat ke hari Anda di kantor. Gunakan waktu di rumah untuk fokus ke tugas yang lebih kreatif”.

Ya, mungkin itu agak sedikit bertele-tele, namun apa yang disampaikan sudah jelas dan langsung ke poin. Sulit bagi seseorang untuk tidak paham dan salah mengartikannya. Faktanya, jika Anda menggunakan bahasa seperti di atas, Anda sudah memberitahu apa yang Anda inginkan ke karyawan, dan tidak apa-apa untuk mereka menjadwal ulang rapat.

Ketika Anda tidak pernah memberi tahu akan hal itu, karyawan tidak akan pernah mempraktekkannya karena mereka tidak ingin merasa melanggar aturan. To the point bukan berarti Anda kejam atau tidak beralasan dalam menyampaikan pesan. Semua itu menandakan bahwa Anda tahu persis bagaimana Anda ingin perusahaan beroperasi. Ini adalah budaya perusahaan yang jelas dan harus dipatuhi setiap karyawan di dalamnya. 
Cultural handbook yang jelas dan to the point ini akan membuat karyawan Anda sedikit merasa gentar apabila berniat untuk melakukan hal-hal yang berseberangan dengan cultural handbook. Saatnya buat cultural handbook, dan tulis sejelas mungkin untuk menciptakan budaya perusahaan yang positif dan mampu bertahan dari waktu ke waktu

Share

Related Article

brd

Apa Saja Konten dari Business Requirement Document?

Keberhasilan suatu proyek sangat bergantung pada perencanaan dan pemahaman tentang apa yang ingin dicapai. Untuk alasan inilah, business requirement document atau BRD dibutuhkan.  Business Requirement

value stream mapping

Fungsi Value Stream Mapping dalam Manajemen Produksi

Efisiensi produksi tidak mungkin bisa dicapai tanpa mengetahui di mana titik permasalahan dan pemborosan itu terjadi. Untuk mengidentifikasinya, Anda membutuhkan alat yang tepat. Inilah saat

Program intensif yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia untuk memberdayakan early-stage startup, berfokus pada akselerasi produk dan tim, validasi strategi growth marketing, assisting technology development, dan business skill.

© Startup Studio Indonesia 2021

Sebuah program dari: