Memahami Problem dan Solution Space pada Product Market Fit

identify problem

Product Market Fit (PMF) dicetuskan pertama kali oleh Marc Andreessen pada 2017 dan sudah menjadi tujuan utama dari setiap proses pengembangan produk sebuah bisnis. Mengapa? Karena, PMF merupakan tolak ukur penting apakah sebuah produk benar-benar siap untuk dipasarkan, terlebih mampu menjadi solusi berdasarkan proses identify problem sesuai dengan permasalahan yang dihadapi target konsumennya.

Dalam mencapai PMF, setiap bisnis atau startup harus memahami dan melalui setiap prosesnya yang tersusun pada piramida PMF. Pada dasarnya, piramida PMF memiliki 2 bagian penting yang harus dipahami, yaitu problem dan solution space. Masing-masing bagian tersebut memiliki poin-poin penting yang harus dicapai:

  1. Target konsumen: Siapa yang akan menggunakan produk Anda?
  2. Kebutuhan yang belum terpenuhi: Untuk target konsumen itu, apa kebutuhan mereka?
  3. Value proposition: Hipotesis Anda tentang konsumen mana yang membutuhkan produk Anda? Bagaimana konsumen mendapat manfaat dari produk Anda? Bagaimana Anda memenuhi kebutuhan mereka lebih baik daripada kompetitor?
  4. Fitur: Beragam fungsi dari produk yang bisa memberikan manfaat bagi para pengguna.
  5. UX: Pengalaman konsumen dalam menggunakan produk Anda.

Dua poin pertama yaitu target konsumen dan kebutuhan yang belum terpenuhi adalah pasar, dan pada dasarnya, Anda tidak bisa mengendalikan pasar. Pada poin ini, Anda hanya bisa menentukan target konsumen dari pasar yang sudah ditentukan. Anda memiliki kendali pada 3 poin selanjutnya, yaitu produk.

Problem Space vs Solution Space

Seperti yang sudah diketahui, banyak bisnis yang tidak mampu berkembang karena tidak mampu mencapai PMF. Ketidakmampuan tersebut disebabkan karena banyak pelaku bisnis yang tidak memahami dengan baik setiap proses dalam mencapai PMF. Selain mewakili pasar dan produk, piramida PMF juga terbagi atas 2 hal yang tidak kalah penting, yaitu problem space dan solution space.

Problem space merupakan area di mana Anda bisa belajar lebih mengenal tentang target konsumen Anda dan proses identify problem dihadapi. Problem space akan membantu Anda dalam menentukan produk seperti apa yang perlu Anda buat, dan fitur serta fungsi apa saja yang perlu dimiliki oleh produk Anda.

Pada dasarnya, problem space adalah pondasi dari solution space. Mempelajari kebutuhan konsumen bukanlah pekerjaan yang sederhana. Prosesnya butuh kesabaran dan waktu. Agar efektif, Anda memerlukan keterampilan yang membuat Anda memenangkan kepercayaan konsumen dan kerja sama mereka. Dengan memiliki gambaran jelas mengenai problem space, Anda juga akan paham betul soal siapa saja kompetitor-kompetitor di pasar, dan dengan cara bagaimana bisa memenuhi kebutuhan konsumen.

Yang kedua adalah solution space yang merupakan area yang menentukan apakah produk Anda benar-benar bisa menjadi solusi. Tim produk akan memiliki peran penting pada area ini untuk merumuskan apa saja fitur dan fungsi penting yang harus dimiliki produk. Selain itu, pada area ini customer feedback juga menjadi faktor penting dalam menentukan pengembangan produk.

Mana yang Lebih Penting?

Membahas tentang problem dan solution space, kedua hal ini merupakan rangkaian dari sebuah proses. Artinya, sebagai pelaku bisnis, Anda tidak bisa hanya berfokus pada satu hal saja. Sebuah produk tentunya dibuat untuk jadi solusi yang berangkat dari sebuah masalah.

Namun, seringkali sebuah startup cenderung lebih fokus pada solution space dengan kehendak untuk menciptakan produk yang sempurna tanpa benar-benar memahami pasar dan target konsumennya.

Albert Einstein pernah berkata, “Given one hour to save the planet, I would spend 59 minutes to understand the problem and one minute resolving it.” Kalimat tersebut menggambarkan betapa pentingnya memahami sebuah masalah untuk merumuskan sebuah solusi.

Pada dasarnya, bukan berarti problem space memiliki porsi yang lebih kecil dibandingkan solution space. Proses pengembangan sebuah produk juga tentu memakan waktu yang panjang dan berkelanjutan. Bahkan, membutuhkan proses yang berulang yang dilakukan berkali-kali. Namun, pada proses pengembangan produk yang berkelanjutan dan berulang tersebut, semua didasarkan pada kebutuhan yang berawal dari sebuah masalah. Masalah dan kebutuhan merupakan dua hal yang akan terus berkembang dan sebuah startup bisa terus berkembang bila mampu beradaptasi untuk menjawab berbagai masalah dan kebutuhan tersebut.

Share

Related Article

brd

Apa Saja Konten dari Business Requirement Document?

Keberhasilan suatu proyek sangat bergantung pada perencanaan dan pemahaman tentang apa yang ingin dicapai. Untuk alasan inilah, business requirement document atau BRD dibutuhkan.  Business Requirement

value stream mapping

Fungsi Value Stream Mapping dalam Manajemen Produksi

Efisiensi produksi tidak mungkin bisa dicapai tanpa mengetahui di mana titik permasalahan dan pemborosan itu terjadi. Untuk mengidentifikasinya, Anda membutuhkan alat yang tepat. Inilah saat

Program intensif yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia untuk memberdayakan early-stage startup, berfokus pada akselerasi produk dan tim, validasi strategi growth marketing, assisting technology development, dan business skill.

© Startup Studio Indonesia 2021

Sebuah program dari: